ElevenLabs vs PlayHT: Mana yang Lebih Worth It?
![]() |
| Peta Kekuatan: ElevenLabs (Kiri) rajanya suara natural, tapi PlayHT (Kanan) menang telak kalau bicara soal durasi panjang dan dompet tipis. |
Pas lagi coba bikin video narasi untuk channel YouTube, saya sempat stuck milih antara ElevenLabs sama PlayHT. Keduanya sama-sama tool text-to-speech berbasis AI yang lagi naik daun, tapi ternyata pengalaman pakai keduanya beda banget—mulai dari kualitas suara, workflow, sampai soal harga yang bikin kantong meringis.
Artikel ini bukan sekadar daftar fitur copy-paste dari website resmi mereka. Ini hasil pengalaman nyata setelah pakai kedua platform untuk berbagai keperluan: bikin podcast, narasi video edukasi, bahkan eksperimen voice cloning buat konten TikTok. Saya juga akan bahas celah informasi yang sering diabaikan artikel lain—seperti masalah konsistensi suara saat generate ulang, limitasi praktis di kuota gratis, dan performa keduanya buat bahasa Indonesia.
Kualitas Suara: Detail yang Bikin Beda
Ini poin paling krusial, dan tempat pertama saya langsung ngerasain perbedaan signifikan. ElevenLabs punya reputasi bagus soal naturalness, tapi PlayHT juga nggak kalah—asalkan tahu voice model mana yang dipilih.
ElevenLabs: Emosi yang Terasa Lebih Hidup
Ketika pertama kali generate narasi pakai model "Adam" dari ElevenLabs, saya agak kaget. Intonasinya nggak datar kayak robot jadul. Ada naik-turunnya, ada jeda yang natural, bahkan sesekali terdengar kayak orang yang lagi mikir sebentar sebelum lanjut ngomong. Untuk konten storytelling atau video esai, ini penting banget.
Yang bikin ElevenLabs unggul adalah teknologi emotional range mereka. Model Multilingual v2 dan Turbo v2.5 bisa nangkep konteks kalimat—misalnya kalimat tanya akan otomatis naik di akhir, atau kalimat yang pakai huruf kapital semua bakal terdengar lebih emphatic. Nggak perlu manual tambahin SSML tags segala macam.
PlayHT: Konsistensi dan Pilihan Voice Berlimpah
PlayHT punya 800+ voice models dari berbagai bahasa dan aksen. Angka ini jauh di atas ElevenLabs yang "cuma" punya sekitar 30an premade voices (walau bisa bikin custom unlimited). Kalau butuh suara spesifik—misalnya British accent formal, atau Indian English—PlayHT jadi arsenal yang lebih lengkap.
Model terbaru mereka, PlayHT 2.0 Turbo, udah lumayan mengejar gap kualitas dengan ElevenLabs. Bedanya, PlayHT lebih stabil kalau generate script yang sama berulang kali. ElevenLabs kadang hasilin intonasi sedikit beda tiap regenerate, yang bisa jadi masalah kalau butuh konsistensi ketat untuk project profesional.
Tapi ada trade-off: suara PlayHT cenderung lebih "aman" dan kurang ekspresif. Bagus buat narasi instructional, company profile, atau e-learning. Kurang cocok buat konten yang butuh emotional depth kayak audiobook fiksi atau podcast drama.
![]() |
| Visualisasi waveform memperlihatkan ElevenLabs menghasilkan variasi volume dan intonasi yang lebih dinamis, sementara PlayHT cenderung lebih konsisten dan datar. |
Voice Cloning: Mana yang Lebih Akurat?
Ini fitur yang paling sering bikin orang tertarik, sekaligus yang paling tricky. Kedua platform punya pendekatan berbeda.
ElevenLabs: Cepat tapi Butuh Sample Berkualitas
ElevenLabs cuma butuh 1 menit audio buat instant voice cloning (versi gratis), atau bisa upload sampai 3 jam audio buat professional cloning (berbayar). Prosesnya cepat, sekitar 5-10 menit jadi.
Pengalaman saya: hasil cloning bagus kalau sample audio yang diupload memang clean—minim background noise, consistent volume, dan satu pembicara aja. Pas saya coba clone suara temen yang rekaman pakai mic laptop di kamar kos (yang notabene ada gema dikit), hasilnya kurang memuaskan. Suara hasil cloning kedengarannya muffled dan kehilangan karakteristik unik kayak slight raspy tone yang bikin suara dia khas.
PlayHT: Lebih Fleksibel, Proses Lebih Lama
PlayHT bisa terima sample audio yang lebih "kotor" dan tetap ngasih hasil lumayan. Mereka punya preprocessing yang lebih agresif untuk noise reduction. Tapi konsekuensinya, kadang karakter suara asli jadi terlalu "dimurnikan" sampai kehilangan uniqueness.
Proses training di PlayHT juga lebih lama—bisa 30 menit sampai sejam. Plus butuh minimal 30 menit audio buat hasil optimal, yang obviously lebih demanding dari segi effort rekaman.
Perbandingan Harga: Yang Mana Lebih Masuk Akal?
Ini bagian yang bikin pusing sekaligus crucial buat budget jangka panjang, apalagi kalau rencana pakai tools ini rutin.
| Tier | ElevenLabs | PlayHT |
|---|---|---|
| Free | 10.000 karakter/bulan (~7-8 menit audio) |
12.500 kata/bulan (~90 menit audio) |
| Starter | $5/bulan 30.000 karakter (~22 menit) |
$31.20/bulan 150.000 kata (~18 jam) |
| Creator | $22/bulan 100.000 karakter (~75 menit) |
$79.20/bulan 600.000 kata (~72 jam) |
| Pro | $99/bulan 500.000 karakter (~375 menit) |
$239.20/bulan 2.400.000 kata (~288 jam) |
Di atas kertas, PlayHT keliatan jauh lebih murah per menit audio. Tapi ada catch: sistem perhitungan mereka beda. ElevenLabs hitung per karakter (termasuk spasi dan tanda baca), sementara PlayHT hitung per kata. Jadi kalau script kamu penuh dengan kalimat pendek dan banyak tanda baca, ElevenLabs bisa jadi lebih boros.
Hidden Cost yang Jarang Dibahas
PlayHT punya sistem "credit" yang agak membingungkan. Tiap voice model punya cost berbeda—voice premium atau ultra-realistic bisa makan 2-3x lipat credit dibanding voice standard. Jadi kalau pilih voice model paling bagus, kuota 150.000 kata bisa cepet habis.
ElevenLabs lebih straightforward: semua voice model (termasuk yang paling canggih) dihitung sama. Tapi fitur voice cloning professional dan commercial rights cuma available di tier Pro ke atas yang $99/bulan—agak mahal buat individual creator.
User Experience dan Workflow
Tools yang powerful tapi ribet dipake ya ujung-ujungnya ditinggalin juga. Mari kita bandingkan dari sisi praktis daily usage.
Interface: Simpel vs Feature-Rich
ElevenLabs punya interface yang cleaner dan lebih intuitif. Dashboard utama langsung menampilkan library voice, tombol generate, dan voice settings. Nggak ada distraksi. Bagus banget buat beginners atau yang butuh generate cepat tanpa mikir banyak.
PlayHT sebaliknya—interface-nya packed dengan opsi. Ada tabs buat voice selection, fine-tuning parameters (speed, pitch, emphasis), history management, pronunciation library, dan lain-lain. Buat yang suka kontrol detail, ini surga. Tapi buat yang cuma pengen "tulis, klik, done", bisa overwhelmed.
Editing dan Pronunciation Control
Ini pain point yang jarang dibahas artikel lain: gimana caranya benerin pronounciation yang salah?
Misalnya, kedua AI ini sering salah nyebutin brand names, istilah teknis, atau nama tempat di Indonesia. "Yogyakarta" sering jadi "Yog-yakarta" dengan emphasis yang aneh. "Tokopedia" kadang dieja "Toko-pedia" dengan jeda di tengah.
PlayHT punya pronunciation dictionary yang bisa di-customize. Kamu bisa set phonetic spelling buat kata-kata spesifik, dan dia bakal apply ke semua generate berikutnya. Ini super helpful kalau sering pakai brand terms atau technical jargon.
ElevenLabs nggak punya fitur ini built-in. Solusinya cuma pakai SSML tags (Speech Synthesis Markup Language) atau nulis kata dengan ejaan fonetik manual—misalnya tulis "Yogya-kar-ta" dengan strip supaya dibaca dengan jeda. Kurang elegant, tapi works.
![]() |
| Antarmuka ElevenLabs lebih sederhana dan cepat digunakan, sedangkan PlayHT menawarkan kontrol teknis lebih lengkap untuk pengguna advanced. |
Bahasa Indonesia: Mana yang Lebih Bagus?
Ini topical gap yang hampir nggak pernah dibahas artikel berbahasa Inggris—padahal crucial buat kita. Keduanya support bahasa Indonesia, tapi hasilnya beda tipis.
ElevenLabs: Aksen Masih Terasa Asing
Model multilingual ElevenLabs bisa generate bahasa Indonesia, tapi masih kental aksen bulenya. Intonasi kalimat sering nggak pas—misalnya emphasis di suku kata yang salah, atau nggak ada intonasi naik di akhir kalimat tanya.
Contoh: kalimat "Kamu sudah makan?" sering kedengarannya datar kayak pernyataan, bukan pertanyaan. Kata ganti kayak "beliau", "bapak/ibu" juga kadang diucapkan terlalu formal atau justru terlalu casual.
PlayHT: Lebih Natural tapi Pilihan Voice Terbatas
PlayHT punya beberapa voice model khusus bahasa Indonesia yang lebih natural. Pronunciation lebih akurat, dan rhythm bicara lebih mendekati native speaker. Tapi pilihan voice-nya cuma sekitar 5-6 variasi—mostly formal dan kurang cocok buat konten santai atau comedic.
Untuk konten berbahasa Indonesia, terutama yang tone-nya conversational atau edukatif, PlayHT punya sedikit edge. Tapi kalau konten kamu bilingual atau mixed (Indo-English), ElevenLabs lebih flexible karena bisa seamlessly switch bahasa tanpa ganti voice model.
API dan Integrasi: Untuk Developer
Buat yang mau integrasikan text-to-speech ke aplikasi atau workflow automation, ini penting.
ElevenLabs punya API yang well-documented dengan Python SDK dan JavaScript SDK resmi. Latency-nya rendah (biasanya 1-2 detik buat generate audio pendek), dan response format-nya straightforward. Cocok buat real-time applications kayak chatbot berbasis suara atau voice assistant.
PlayHT API-nya lebih feature-rich—bisa set granular parameters kayak speed, pitch, temperature (randomness), bahkan inject custom pauses. Tapi dokumentasinya agak kurang detail di beberapa bagian, dan kadang ada breaking changes di API version baru tanpa proper deprecation notice.
Rate limiting juga beda: ElevenLabs lebih generous di tier berbayar, sementara PlayHT lebih ketat dan bisa throttle kalau request terlalu sering dalam waktu singkat.
Use Cases: Mana yang Cocok Buat Apa?
Daripada bilang "yang ini lebih bagus", lebih fair kalau kita breakdown based on actual use cases.
Pilih ElevenLabs Kalau:
- Bikin konten storytelling (podcast narrative, audiobook, video essay) yang butuh emotional expressiveness
- Butuh voice cloning cepat dengan sample audio minimal dan hasil yang cukup akurat
- Workflow simple lebih penting daripada kontrol granular—kamu cuma pengen generate audio cepet tanpa ngoprek settings
- Konten bilingual atau mixed language yang butuh seamless code-switching
- Real-time applications via API dengan latency rendah
Pilih PlayHT Kalau:
- High-volume production dengan budget yang lebih ketat (misal: auto-generate ratusan video pendek per bulan)
- Butuh variety voice dengan banyak aksen dan karakteristik berbeda
- Pronunciation control penting—misalnya sering pakai technical terms, brand names, atau istilah lokal yang harus consistent
- Konten instructional (tutorial, e-learning, IVR, podcast informational) yang nggak butuh banyak emotional range
- Bahasa Indonesia murni dengan tone formal
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
Dari pengalaman pakai kedua tools ini dan baca komunitas user, ini beberapa pitfall yang sering terjadi:
1. Nggak proofreading script sebelum generate. Typo, tanda baca yang salah, atau kalimat ambigu bakal langsung kedengaraan aneh di audio. AI bakal baca persis apa yang kamu tulis—termasuk kalau ada kata yang typo jadi nggak jelas.
2. Pakai voice yang nggak match tone konten. Misalnya pakai voice terlalu formal buat konten comedy, atau voice terlalu casual buat corporate video. Test beberapa voice dulu sebelum commit ke satu voice buat satu series.
3. Ngabisin kuota di re-generate terus. Karena hasil kadang beda tiap generate, banyak yang stuck di loop "belum pas nih, coba lagi deh"—ujungnya kuota habis. Mending perfect script dulu, baru generate. Kalau hasilnya 80% oke, kadang lebih cepat edit manual di audio editor daripada re-generate puluhan kali.
4. Lupa cek licensing. Beberapa tier nggak include commercial use rights. Kalau konten kamu monetized (YouTube ads, sponsored, atau dijual), pastikan paket kamu cover commercial usage. ElevenLabs tier Creator ke atas udah include ini, sementara PlayHT perlu tier Growth atau Pro.
Alternatif Lain yang Patut Dipertimbangkan
ElevenLabs dan PlayHT emang dua pilihan top, tapi bukan satu-satunya. Tergantung kebutuhan, beberapa alternatif ini juga layak dicek:
Murf.ai – Interface lebih user-friendly dengan built-in video editor. Cocok buat yang bikin video explainer atau presentation dengan sync narasi.
WellSaid Labs – Fokus ke enterprise dengan quality control ketat. Mahal, tapi reliable buat production-level content.
Descript Overdub – Bagian dari ecosystem Descript yang lengkap (transcription, editing, dll). Kalau udah pakai Descript buat podcast editing, ini seamless.
Atau kalau tertarik eksplorasi AI tools lainnya, kamu bisa baca perbandingan Gemini vs ChatGPT buat referensi tools AI lain yang bisa complement workflow kreatif kamu.
Kesimpulan: Jadi Pilih yang Mana?
Nggak ada jawaban absolut "yang ini lebih bagus" karena beda use case, beda prioritas. Tapi kalau saya disuruh recommend berdasarkan pengalaman:
Buat kebanyakan content creator individual yang bikin YouTube videos, podcast, atau social media content dengan moderate volume (2-5 video per minggu), ElevenLabs lebih recommended. Kualitas suara yang lebih ekspresif bakal bikin konten lebih engaging, dan workflow yang simpel artinya kamu nggak buang waktu ngoprek settings.
Buat production house, agency, atau creator yang high-volume dengan konsisten tone (misal: brand content, e-learning courses, atau automated content generation), PlayHT lebih cost-effective dan punya kontrol yang lebih granular.
Saran saya: manfaatin free tier keduanya dulu. Generate beberapa script yang sama, dengar hasilnya di device berbeda (laptop, earphone, smartphone speaker), dan rasain workflow mana yang lebih nyaman. Investasi $5-$20 per bulan untuk tools yang bakal significantly improve production quality adalah worthwhile spend buat banyak creator.
Yang jelas, keduanya jauh lebih baik dibanding text-to-speech jadul kayak Google TTS atau Amazon Polly yang masih kental suara robot-nya. Era di mana audio AI kedengeran indistinguishable dari human voice udah di depan mata—dan ElevenLabs sama PlayHT adalah dua pioneer yang lagi push boundary tersebut.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
Keduanya support bahasa Indonesia, tapi dengan kualitas berbeda. PlayHT punya voice model khusus Indonesia yang pronunciation-nya lebih akurat dan natural, cocok untuk konten formal. ElevenLabs masih terasa aksen asing dan intonasi kadang kurang pas, tapi lebih flexible untuk konten bilingual. Untuk konten profesional full Indonesia, PlayHT sedikit lebih unggul.
ElevenLabs instant voice cloning membutuhkan minimal 1 menit audio sample dan prosesnya selesai dalam 5-10 menit. PlayHT butuh minimal 30 menit audio untuk hasil optimal, dengan proses training sekitar 30-60 menit. ElevenLabs lebih cepat, tapi PlayHT lebih toleran terhadap audio berkualitas rendah (ada background noise).
PlayHT lebih ekonomis untuk penggunaan jangka panjang kalau kamu produksi audio dalam volume besar dan konsisten, seperti e-learning, auto-generated podcast, atau video narasi massal. Sistem perhitungan per kata dan durasi audio membuat biaya per jam jauh lebih murah.
Namun untuk creator individual dengan volume moderat, ElevenLabs sering terasa lebih “murah secara praktis” karena kualitasnya tinggi tanpa perlu banyak regenerate, sehingga kuota tidak cepat habis.
Ya, aman selama kamu menggunakan paket yang sudah mencakup commercial usage rights. ElevenLabs mengizinkan penggunaan komersial mulai dari tier Creator. PlayHT mensyaratkan paket Growth atau Pro untuk konten monetized. Jangan pakai hasil dari free tier untuk iklan atau konten berbayar.
Legal dan etis jika kamu meng-clone suara sendiri atau suara orang lain dengan izin eksplisit. Baik ElevenLabs maupun PlayHT melarang keras cloning suara tanpa consent. Untuk penggunaan profesional, selalu simpan bukti izin tertulis.



Posting Komentar untuk "ElevenLabs vs PlayHT: Mana yang Lebih Worth It?"
Posting Komentar