ADVAN Macha: HP 5G Lokal dengan Panel AMOLED & Dimensity 7060
Brand lokal Indonesia sedang berusaha keras menunjukkan eksistensinya di pasar smartphone yang makin kompetitif. ADVAN, setelah sempat vakum dari radar konsumen, mencoba comeback dengan strategi baru. Salah satu produk andalannya adalah ADVAN Macha—smartphone 5G yang diposisikan sebagai pilihan kelas menengah dengan harga Rp2.999.000.
Nama "Macha" sendiri bukan sekadar branding asal-asalan. ADVAN mengklaim smartphone ini terinspirasi dari minuman matcha Jepang yang identik dengan energi, fokus, dan ketenangan. Lebih jauh lagi, nama tersebut juga menjadi akronim dari Masterpiece of Aesthetics, Clarity, and High Accuracy. Ambisius? Tentu. Tapi apakah spesifikasi dan performa ADVAN Macha bisa membuktikan klaim tersebut?
Setelah menguji smartphone ini secara menyeluruh—dari desain, performa gaming, kualitas kamera, hingga daya tahan baterai—saya menemukan beberapa hal menarik yang patut diapresiasi, sekaligus sejumlah kelemahan yang perlu digarisbawahi. Mari kita bedah satu per satu.
Desain Tipis dengan Material Standar, Tapi Nyaman di Genggaman
Saat pertama kali mengangkat ADVAN Macha dari kemasannya, kesan pertama yang muncul adalah: kok tipis banget ya? Dengan ketebalan hanya 7,3 mm dan bobot sekitar 177 gram, smartphone ini terasa lebih ramping dibanding rata-rata ponsel di kelasnya. Buat yang sering bawa smartphone di kantong celana atau tas kecil, dimensi ini jadi nilai plus.
Desainnya mengusung konsep serba flat—layar datar, frame samping datar, punggung belakang juga datar. Tapi ADVAN tidak membiarkan desain flat ini terasa terlalu rigid atau tajam di tangan. Ada sedikit lengkungan halus di area pertemuan antara layar dan frame, yang membuat transisi antar-permukaan terasa lebih nyaman saat digesek.
Frame-nya menggunakan material polikarbonat, bukan aluminium atau metal. Ini wajar mengingat positioning harga ADVAN Macha yang masih di bawah Rp3 juta. Kualitas build terasa cukup solid, tidak ada bunyi berderit saat ditekan, meskipun tentu saja tidak sebanding dengan feel premium dari ponsel flagship.
![]() |
| ADVAN Macha mengusung desain ramping 7,3 mm dengan bobot 177 gram yang nyaman digenggam untuk penggunaan harian |
Yang sedikit mengecewakan adalah pilihan warna. Saat ini ADVAN Macha hanya tersedia dalam satu varian warna: hitam. Padahal, mengingat namanya yang terinspirasi dari matcha, rasanya sayang sekali kalau tidak ada pilihan warna hijau khas matcha sebagai opsi alternatif. Mungkin ADVAN bisa mempertimbangkan varian warna baru di masa mendatang untuk menarik lebih banyak konsumen.
Tombol dan Port: Lengkap dengan Infrared Blaster
Tata letak tombol dan port di ADVAN Macha cukup konvensional. Di sisi kanan ada tombol power dan volume rocker. Di bagian atas terdapat mikrofon, grill speaker, dan yang cukup jarang ditemui: infrared blaster. Fitur ini memungkinkan Anda menggunakan smartphone sebagai remote control untuk TV, AC, atau perangkat elektronik lain yang mendukung infrared.
Di bagian bawah ada slot SIM tray hybrid (bisa 2 nano SIM atau 1 nano SIM + 1 microSD), port USB Type-C, mikrofon kedua, dan grill speaker kedua. Ya, smartphone ini sudah dilengkapi dengan dual speaker stereo, yang cukup mengejutkan di rentang harga ini.
Layar AMOLED 120Hz: Cerah dan Responsif, Tapi Saturasi Warna Terlalu Tinggi
ADVAN Macha menggunakan panel AMOLED 6,67 inci dengan resolusi Full HD+ (2400 x 1080 piksel) dan refresh rate hingga 120Hz. Secara visual, layar ini terlihat tajam, warna-warnanya hidup, dan animasi terasa smooth berkat refresh rate yang tinggi.
Saat diuji di ruangan dengan pencahayaan normal, brightness maksimal layar mencapai sekitar 510 nits. Angka ini cukup memadai untuk penggunaan indoor. Namun yang lebih menarik adalah saat diuji dalam simulasi outdoor dengan pencahayaan ekstrem—layar bisa meningkat hingga 875 nits. Ini adalah angka yang sangat baik, bahkan untuk smartphone di kelas menengah ke atas. Jadi kalau Anda sering menggunakan ponsel di luar ruangan pada siang hari, layar ADVAN Macha tidak akan mengecewakan.
![]() |
| Panel AMOLED 120Hz ADVAN Macha tetap terbaca jelas di luar ruangan dengan brightness mencapai 875 nits |
Masalah di Color Gamut: Terlalu Jenuh
Layar ADVAN Macha memiliki dua mode warna: Normal dan Vivid. Namun, saat diukur menggunakan colorimeter, kedua mode ini ternyata tidak terlalu berbeda secara signifikan. Saturasi warna tetap tinggi di kedua mode, dengan coverage mencapai 100% sRGB dan volume hingga 171% sRGB. Untuk DCI-P3, coverage-nya 99,5% dengan volume 121%.
Artinya? Warna di layar ini terlihat sangat jenuh—terlalu hidup, bahkan bisa dibilang berlebihan. Buat konsumsi konten hiburan seperti nonton YouTube atau main game, ini mungkin terasa menyenangkan. Tapi buat yang sering edit foto atau video dan butuh akurasi warna, layar ini kurang ideal. Tidak ada mode yang dioptimalkan untuk 100% sRGB, yang sebenarnya lebih akurat untuk color grading.
Jadi kalau Anda mengedit foto di ADVAN Macha dan hasilnya terlihat bagus di layar ini, bisa jadi saat dilihat di layar lain (terutama layar laptop atau monitor yang lebih akurat), warnanya terasa kurang vibrant. Ini perlu diingat buat content creator.
Performa Dimensity 7060: Debut Chipset Baru dari MediaTek
ADVAN Macha adalah smartphone pertama di Indonesia yang menggunakan chipset MediaTek Dimensity 7060. Ini adalah SoC baru dengan fabrikasi 6nm, CPU octa-core yang terdiri dari 2 core Cortex-A78 berkecepatan 2,6 GHz dan 6 core Cortex-A55 berkecepatan 2 GHz. GPU-nya menggunakan Mali-G68 MC4.
Di atas kertas, spesifikasi ini terlihat cukup menjanjikan untuk smartphone kelas menengah. Tapi bagaimana performa aktualnya?
Benchmark: Angka yang Cukup Wajar
Saat diuji menggunakan AnTuTu 10, ADVAN Macha mampu meraih skor sekitar 476.000 poin. Untuk Geekbench 6, skor single-core mencapai 973 dan multi-core 2.358. Angka-angka ini menempatkan ADVAN Macha di posisi yang cukup kompetitif di kelasnya, meskipun tidak unggul signifikan dibanding kompetitor seperti Infinix Note 60 Pro yang menggunakan Dimensity 7020.
Sayangnya, saat pengujian beberapa aplikasi benchmark seperti AnTuTu 11 dan GFXBench, saya mengalami kendala koneksi ke server, sehingga tidak bisa mendapatkan skor lengkap. Ini bisa jadi karena masalah kompatibilitas chipset baru atau server benchmark yang sedang bermasalah.
Gaming Test: PUBG Mobile Terbatas 40 FPS, Mobile Legends Stuck di 60 FPS
Untuk menguji performa gaming, saya mencoba beberapa game populer dengan setting berbeda-beda.
Subway Surfers: Game casual ini berjalan lancar di 60 FPS, bahkan saat refresh rate layar diatur ke 120Hz. Tidak ada masalah di sini.
PUBG Mobile: Ini yang cukup mengecewakan. Saat menggunakan mode Smooth, frame rate hanya terbuka hingga opsi Ultra, yang artinya maksimal 40 FPS. Tidak ada opsi Extreme atau 60 FPS. Padahal, chipset Dimensity 7060 seharusnya mampu menangani PUBG Mobile di 60 FPS dengan lancar. Selama bermain, frame rate cukup stabil di sekitar 40 FPS, tapi sesekali ada frame drop ke 30 FPS saat situasi ramai. Buat game shooter seperti PUBG, 40 FPS terasa kurang responsif, terutama buat pemain yang sudah terbiasa dengan 60 FPS atau lebih tinggi.
Mobile Legends: Game MOBA ini seharusnya bisa berjalan hingga 90 FPS di setting Super. Namun, entah kenapa, frame rate ADVAN Macha stuck di 60 FPS. Saya sudah mencoba berbagai setting, tapi tetap tidak bisa menembus 60 FPS. Mungkin ini terkait optimasi driver GPU atau pembatasan software dari pihak ADVAN. Performanya sendiri cukup stabil di 55-60 FPS, jadi pengalaman bermain masih smooth, meskipun tidak maksimal.
![]() |
| ADVAN Macha mampu menjalankan Mobile Legends dengan stabil di 60 FPS untuk pengalaman bermain yang konsisten |
Genshin Impact: Ini adalah game paling berat yang saya coba. Dengan setting Lowest + 60 FPS, ADVAN Macha mampu menghasilkan rata-rata 35-37 FPS selama 30 menit bermain. Frame rate bervariasi antara 30-42 FPS, dengan drop lebih sering terjadi saat battle dengan banyak efek visual. Meskipun tidak mencapai 60 FPS, performa ini masih cukup baik untuk chipset kelas menengah. Yang menarik, saat saya menggunakan kipas eksternal untuk pendinginan, frame rate sedikit lebih stabil dan naik menjadi rata-rata 37 FPS.
Thermal Management: Panas di Area Kamera Belakang
Setelah bermain Genshin Impact selama 30 menit tanpa kipas, suhu permukaan layar mencapai 41-42°C di area dekat kamera selfie. Sementara di sisi belakang, suhu tertinggi mencapai 45°C di area modul kamera. Area tengah dan bawah punggung smartphone relatif lebih dingin, sekitar 36-38°C.
Suhu 45°C memang terasa hangat saat digenggam, tapi tidak sampai mengganggu kenyamanan bermain. Dengan menggunakan kipas eksternal, suhu bisa turun beberapa derajat, dan performa jadi sedikit lebih stabil.
Kamera: Sony IMX Sensor, Tapi Hasil Video Masih Perlu Perbaikan
ADVAN Macha dilengkapi dengan kamera utama 50MP Sony IMX752 dengan aperture f/1.8 dan autofokus. Ini menarik karena tidak semua smartphone di rentang harga ini menggunakan sensor Sony. Selain itu, ada kamera makro tambahan dan kamera selfie 8MP fixed focus.
Kualitas Foto: Mencukupi dengan HDR Manual
Secara umum, kualitas foto dari ADVAN Macha cukup baik untuk smartphone di kelasnya. Saat kondisi pencahayaan cukup, hasil foto terlihat tajam dengan detail yang memadai. Warna cenderung sedikit oversaturated (seperti karakteristik layar), tapi masih dalam batas wajar.
Yang perlu diperhatikan: mode HDR tidak aktif secara otomatis. Anda harus mengaktifkannya secara manual di menu kamera. Saat HDR aktif, dynamic range jadi lebih baik—langit tidak overexposed dan area gelap tetap terlihat detailnya. Jadi, pastikan selalu nyalakan HDR saat memotret di kondisi kontras tinggi.
Untuk foto malam hari, ADVAN Macha menyediakan mode Night. Namun, hasil dari mode ini justru terkesan berlebihan—warna kulit jadi terlalu terang dan tidak natural. Saya lebih suka hasil foto malam tanpa Night Mode, yang meskipun sedikit gelap tapi terlihat lebih realistis.
![]() |
| Sensor Sony IMX752 50MP pada ADVAN Macha mampu menghasilkan foto tajam dengan detail yang baik di siang hari |
Kualitas Video: EIS Belum Optimal
ADVAN Macha mendukung perekaman video hingga resolusi 2K (2560 x 1440 piksel) pada 30 FPS. Untuk resolusi Full HD, tersedia opsi 60 FPS. Ini adalah fitur yang jarang ditemui di smartphone seharga Rp2,9 juta.
Namun, kualitas video masih menjadi kelemahan utama. Meskipun ADVAN Macha dilengkapi dengan EIS (Electronic Image Stabilization), stabilisasi ini belum bekerja dengan baik. Video masih terlihat shaky, terutama saat berjalan atau bergerak cepat. Bahkan saat EIS diaktifkan, hasil video justru terkadang miring—ini adalah bug yang perlu segera diperbaiki oleh tim ADVAN.
Saran saya: matikan EIS bawaan dan gunakan stabilisasi manual lewat Google Photos setelah merekam. Hasilnya justru lebih baik.
Untuk video low light, kualitasnya menurun drastis. Gambar menjadi soft dengan noise yang bermunculan. Dynamic range juga kurang baik—kadang terlalu gelap, kadang terlalu terang.
Fitur Kamera Unik: Pro Video Mode
Salah satu fitur yang jarang ditemui di kelas harga ini adalah Pro Video Mode. Mode ini memungkinkan Anda mengatur ISO (100-800) dan shutter speed (1/800 hingga 16 detik) secara manual saat merekam video. Ini sangat berguna buat content creator yang ingin kontrol penuh atas eksposur video.
Selain itu, ada juga fitur Dual View yang menggabungkan kamera utama dan selfie dalam satu frame—cocok untuk vlogging. Ada juga Slow Motion (720p), Document Correction, AI Emoji, dan berbagai mode AI lainnya.
Baterai 5000 mAh: Daya Tahan Cukup, Charging Standar
ADVAN Macha menggunakan baterai 5000 mAh dengan dukungan fast charging 33W. Saat saya uji dengan memutar video offline 1080p secara terus-menerus, baterai habis dalam 16 jam 42 menit. Ini adalah angka yang cukup wajar untuk smartphone dengan baterai 5000 mAh dan SoC 6nm.
Untuk penggunaan normal sehari-hari—browsing, social media, streaming YouTube, main game ringan—ADVAN Macha bisa bertahan seharian penuh tanpa masalah. Namun, kalau Anda sering main game berat seperti Genshin Impact atau PUBG Mobile, baterai akan lebih cepat terkuras.
Sebagai perbandingan, smartphone seperti Tecno Pova 8 dengan baterai 8000 mAh tentu menawarkan daya tahan yang jauh lebih lama. Tapi untuk ukuran baterai 5000 mAh, ADVAN Macha sudah cukup kompetitif.
Charging Speed: Lumayan, Tapi Bisa Lebih Cepat
Dengan charger 33W yang disertakan di dalam paket, ADVAN Macha bisa terisi dari 0% ke 50% dalam 30 menit. Untuk pengisian penuh dari 0% ke 100%, butuh waktu sekitar 1 jam 31 menit.
Jujur, ini bukan angka yang terlalu impresif. Saya berharap dengan kapasitas baterai 5000 mAh dan charger 33W, waktu pengisian penuh bisa lebih cepat—idealnya sekitar 1 jam 10 menit atau kurang. Mungkin ini terkait dengan pengaturan charging curve yang lebih konservatif untuk menjaga kesehatan baterai jangka panjang.
Fitur Tambahan: NFC, Infrared, AI Features
ADVAN Macha dilengkapi dengan berbagai fitur tambahan yang cukup menarik:
NFC: Mendukung pembayaran digital seperti GoPay, OVO, dan e-wallet lainnya. Sayangnya, saat diuji, Widevine Level-nya hanya L3, sehingga tidak bisa streaming konten HD/FHD di platform seperti Netflix. Solusinya: download dulu konten dengan kualitas tertinggi, baru tonton secara offline.
Infrared Blaster: Bisa digunakan sebagai remote control untuk TV, AC, dan perangkat elektronik lain.
FM Radio: Hiburan gratis tanpa kuota internet, tapi butuh headset USB Type-C sebagai antena.
Always-On Display: Ada mode "Always" yang membuat AOD selalu tampil, bukan hanya 10 detik seperti di smartphone lain.
Fitur AI: ADVAN Macha dilengkapi dengan berbagai fitur AI seperti AI Smartpad (asisten digital berbentuk anjing atau kucing), AI Hoverball (screenshot untuk pencarian AI), AI Call Summary (transkrip percakapan telepon), dan AI Photo Editor (AI cut out, elimination, image expansion, dll).
Software: Android 15 Bersih Tanpa Bloatware
Salah satu hal yang paling saya apresiasi dari ADVAN Macha adalah software-nya. Smartphone ini menggunakan Android 15 sebagai sistem operasi, dan yang lebih penting: tidak ada bloatware atau iklan bawaan.
Ini adalah kabar baik, terutama untuk pengguna yang bosan dengan smartphone penuh aplikasi pihak ketiga yang tidak bisa dihapus. ADVAN Macha memberikan pengalaman Android yang bersih dan langsung siap pakai.
Namun, ada satu kelemahan: ADVAN belum mengumumkan kebijakan update Android untuk smartphone ini. Tidak jelas apakah ADVAN Macha akan mendapatkan update ke Android 16 atau berapa lama support security patch-nya. Ini adalah informasi penting yang seharusnya disampaikan sejak awal.
Harga dan Kompetitor: Apakah Worth It?
ADVAN Macha dijual dengan harga Rp2.999.000 untuk varian tunggal: RAM 8GB + Storage 256GB. RAM-nya menggunakan LPDDR5 dan storage-nya UFS 3.1—spesifikasi yang sangat baik di rentang harga ini.
Di harga sekitar Rp3 juta, ADVAN Macha bersaing dengan smartphone seperti Infinix Note 60 Pro, Realme 12, Redmi Note 13, dan Tecno Camon 30. Masing-masing memiliki keunggulan tersendiri:
- Infinix Note 60 Pro: Lebih unggul di performa gaming dan kualitas kamera video
- Realme 12: Desain lebih premium dengan kamera telephoto
- Redmi Note 13: Ekosistem MIUI yang lebih matang dengan update lebih panjang
- Tecno Camon 30: Kamera lebih baik dengan OIS
ADVAN Macha tidak unggul di semua aspek, tapi menawarkan kombinasi yang cukup seimbang: konektivitas 5G, layar AMOLED 120Hz yang cerah, chipset terbaru, storage besar, dan software bersih. Untuk konsumen yang mencari smartphone lokal dengan spesifikasi lengkap dan harga kompetitif, ADVAN Macha layak dipertimbangkan.
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar ADVAN Macha
Apakah ADVAN Macha sudah 5G?
Ya, ADVAN Macha sudah mendukung jaringan 5G berkat chipset MediaTek Dimensity 7060. Smartphone ini juga backward compatible dengan 2G, 3G, dan 4G LTE.
Berapa lama daya tahan baterai ADVAN Macha?
Dengan baterai 5000 mAh, ADVAN Macha mampu bertahan hingga 16 jam 42 menit untuk video playback offline. Untuk penggunaan normal sehari-hari, bisa bertahan seharian penuh.
Apakah ADVAN Macha cocok untuk gaming?
ADVAN Macha cukup untuk gaming casual dan MOBA seperti Mobile Legends (60 FPS stabil). Untuk game berat seperti Genshin Impact, bisa dimainkan dengan setting low-medium. Namun, PUBG Mobile terbatas di 40 FPS, yang mungkin kurang ideal untuk pemain kompetitif.
Apakah kamera ADVAN Macha bagus?
Untuk fotografi, kamera 50MP Sony IMX752 di ADVAN Macha cukup baik di kondisi cukup cahaya. Namun, kualitas video masih perlu perbaikan, terutama untuk stabilisasi EIS yang belum optimal.
Apakah ADVAN Macha ada bloatware?
Tidak. ADVAN Macha menggunakan Android 15 yang bersih tanpa aplikasi pihak ketiga bawaan dan tanpa iklan sistem. Ini adalah salah satu keunggulan utama smartphone ini.
Kesimpulan: Apresiasi untuk Brand Lokal dengan Spesifikasi Kompetitif
ADVAN Macha adalah bukti bahwa brand lokal Indonesia masih punya tempat di pasar smartphone yang makin kompetitif. Meskipun bukan yang paling unggul di setiap aspek, smartphone ini menawarkan kombinasi spesifikasi yang cukup seimbang: konektivitas 5G, layar AMOLED 120Hz dengan brightness tinggi, chipset terbaru Dimensity 7060, RAM 8GB + Storage 256GB dengan tipe cepat, kamera Sony IMX, dan software bersih tanpa bloatware.
Yang patut diapresiasi:
- Desain tipis dan ringan (7,3mm, 177 gram)
- Layar AMOLED 120Hz dengan brightness hingga 875 nits
- Chipset 5G terbaru MediaTek Dimensity 7060
- RAM LPDDR5 + Storage UFS 3.1
- Kamera 50MP Sony IMX752 dengan Pro Video Mode
- Dual speaker stereo + infrared blaster + NFC + FM Radio
- Android 15 bersih tanpa bloatware dan iklan
- Always-On Display yang benar-benar "always on"
- In-display fingerprint scanner
Yang perlu diperbaiki:
- EIS kamera video masih belum optimal
- Frame rate game terbatas (PUBG Mobile 40 FPS, Mobile Legends stuck 60 FPS)
- Charging speed bisa lebih cepat
- Widevine Level L3 (tidak bisa streaming HD di Netflix)
- Belum ada informasi kebijakan update Android
- Hanya tersedia satu varian warna
- WiFi masih WiFi 5, belum WiFi 6
Dengan harga Rp2.999.000, ADVAN Macha adalah pilihan yang layak dipertimbangkan, terutama untuk konsumen yang ingin mendukung produk lokal dengan spesifikasi yang tidak mengecewakan. Smartphone ini mungkin bukan yang terlihat paling menonjol di kelasnya, tapi juga bukan smartphone yang bisa diremehkan begitu saja. ADVAN menunjukkan keseriusan mereka dalam comeback ke pasar smartphone Indonesia, dan ADVAN Macha adalah langkah awal yang cukup solid untuk membangun kembali kepercayaan konsumen.
Namun, perlu ditegaskan: ADVAN Macha bukan smartphone untuk semua orang. Jika prioritas utama Anda adalah gaming kompetitif dengan frame rate tinggi, kualitas video yang stabil untuk vlogging, atau dukungan update jangka panjang yang jelas, ada opsi lain di kelas harga yang sama yang mungkin lebih cocok.
Sebaliknya, jika Anda mencari smartphone harian yang seimbang, dengan layar AMOLED cerah, storage besar yang cepat, konektivitas 5G, fitur lengkap (NFC, infrared, stereo speaker), dan pengalaman Android yang bersih tanpa gangguan iklan, ADVAN Macha menawarkan value yang sulit diabaikan—terutama sebagai produk dari brand lokal.
Yang paling penting, ADVAN Macha menunjukkan bahwa ADVAN tidak lagi sekadar “ikut-ikutan” di pasar. Ada usaha nyata untuk menghadirkan spesifikasi relevan, software bersih, dan diferensiasi fitur yang masuk akal. Jika ADVAN mampu memperbaiki optimasi software, stabilisasi kamera video, serta memberikan komitmen update yang transparan di generasi berikutnya, bukan tidak mungkin mereka kembali menjadi pemain yang benar-benar diperhitungkan.
Singkatnya: ADVAN Macha bukan yang paling kencang, bukan yang paling mewah, tapi cukup cerdas untuk harganya. Dan untuk sebuah brand lokal yang sedang bangkit, itu sudah lebih dari sekadar permulaan.




Posting Komentar untuk "ADVAN Macha: HP 5G Lokal dengan Panel AMOLED & Dimensity 7060"
Posting Komentar